Siang itu aku masuk gang kecil di sebelah taman kanak-kanak Islam di kawasan Mojo Kidul, sebuah daerah yang bertetangga dengan Kedung Pengkol. Kuturunkan gas Jupiter MX merahku mengingat gang yang kulewati memiliki lebar yang tidak lebih dari 3 meter. Kutolehkan kepalaku ke utara saat motorku melaju pelan di depan rumah ketiga dari ujung gang. Aku melihat beliau sedang duduk sibuk dengan obeng dan pekakas elektro lainnnya. Beliau asyik mengobati 'pasien' berupa barang elektronik yang dipercayakan orang-orang padanya. Orangnya berbadan bongsor, rambut memutih, dan sepasang kaca pada kedua matanya. Seperti biasa kupanggil beliau, "Mbaaaaah..." dengan laju motorku yang santai, beliau sekilas terlihat terkejut dan menyahut, "Yooooo.," mungkin beliau mbatin, 'sudah lebih sebulan aku tak mendengar suara anak itu.'
Yaaa.. tengah hari aku baru tiba di Surabaya, setelah sebulan lewat aku harus pulang kampung karena ada tugas yang harus kuselesaikan dan bertepatan dengan itu pula aku jatuh sakit. Sakit yang memaksaku untuk terdiam dan terbaring di atas dipan kamar. Walaupun spring bed namanya tidur dalam kondisi sakit yaaa tak nyaman juga. Hampir tiap malam aku tidak bisa memejamkan mata, insomnia kata orang. Kalau pun tertidur, sebentar-sebentar harus mengigau dan membuat mama atau bapak bingung. Pagi hari ketika semua orang di rumah bergegas dengan pekerjaan di luar rumah, aku hanya bisa monoton, paling-paling di depan tv nonton acara musik yang isinya cukup membosankan juga.
Satu hal yang kusesalkan dengan kondisiku yang lemah, tidak bisa sholat berjamaah di masjid. Maghrib, Isya', dan Subuh yang jarang luput kuhadiri akhirnya benar-benar absen. Sholat dalam kondisi duduk rupanya kurang nyaman juga. Walaupun ada rukshoh (keringanan), ada rasa malu pada Sang Pencipta, kenapa harus duduk? Seperti biasa, marahku masih tak terkontrol, aku marah pada diriku sendiri yang lemah, yang ketika jatuh sakit harus membuat susah banyak orang, ngerepoti banyak orang. Tak jarang aku berkeluh kesah pada kedua orang tuaku sambil marah-marah. Astaghfirullah...
Akan tetapi, biidznillah... Singkat cerita, setelah sebulan lebih, Allah mengangkat penyakitku perlahan-lahan. Mataku mulai normal lagi, perutku juga sudah sedikit berkurang rewelnya.
------------------
Ada hal menarik ketika beberapa hari kemarin aku tiba di Surabaya. Suatu pagi ketika aku berniat memandikan MX merahku, tepat di depan musholla ada dua orang yang menghadangku,
"Stoooop, stooop sek... alon-alon ojo kesusu."
"Ngge, ngge...," kujabat tangan salah satunya yang lebih dekat denganku.
"Nang endi ae Rek, kok ndak tau jamaah?" tanyanya.
"Wangsul Pak, wonten kegiatan teng Bondowoso," jawabku sambil menyumbangkan sesungging senyum.
"Iyooo, kok ndak tau sholat bareng sak ulan iki?" tanya lelaki tua yang memegang obeng.
"Ngge Mbah... wangsul, hehehe," sahutku.
------------------
Malamnya, saat dzikiran ba'da Isya', lelaki sepuh dengan perawakan bongsor yang biasa kusapa dengan agak teriak 'Mbaaah' saat melewati depan rumahnya, malam itu menepuk pundakku,
"Ono acara opo muleh?"
"Nggarap skripsi Mbah," aku tersenyum getir karena berbohong menyembunyikan sakitku.
Beliau masih menatapku penuh selidik, "Mosok mung nggarap skripsi?"
"Ngge Mbah.."
Seakan-akan beliau ingin menanyakan 'ndak sakit ta, sakit opo?' tapi beliau mengalihkannya dengan kalimat, "Tak pikir muleh jalaran kawin, hahaha," beliau hampir tertawa lepas namun bisa menahan karena melihat situasi jamaah lain masih dzikiran berjamaah.
Selepas Isya'
Sebenarnya aku terharu dan ingin menangis. Tiba di kontrakan Mojo Kidul 3H, seorang teman kontrakanku mengabarkan kalau sudah beberapa kali orang-orang musholla bertanya tentangku kok lama sekali tidak sholat jamaah. Deg. bergetar hati ini.
Ternyata sungguh tiap mukmin itu bersaudara.
Aku bertanya padanya, "Kau bilang apa?"
"Tak kandakno lek awakmu loro mangkane pulang kampung," katanya ramah.
Bukan, bukan aku gedhe rumongso tapi benar aku merasakan getaran dahsyat ketika diinterogasi oleh dua orang di depan musholla. Memang dari beberapa jamaah, yang sering berkomunikasi denganku ya dua orang itu, Mbah Mahmud dan Pak Mas'ud, sehingga mungkin secara otomatis dan tidak kami sadari hati ini sudah terpaut atas nama ukhuwah yang Allah ta'ala ridhoi, aaaamiiin.
Aku merasa, mereka : Mbah Mahmud dan Pak Mas'ud menginterogasiku dengan hati, dengan iman, dan perasaan bahwa tiap mukmin adalah saudara. Innamal mu'minuna ikhwana (Al-Hujurat : 10).
Aku merasa, mereka : Mbah Mahmud dan Pak Mas'ud menginterogasiku dengan hati, dengan iman, dan perasaan bahwa tiap mukmin adalah saudara. Innamal mu'minuna ikhwana (Al-Hujurat : 10).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar