Laman

Minggu, 24 Juni 2012

Malam Ini Aku Rindu

Selepas Isya' di Baitul Muttaqien ada kerinduan yang mendalam. Kerinduan yang membuncah-buncah. Kerinduan yang menyebabkan air mata tak mampu ditahan. Seusai sholat Isya' berjamaah kutinggalkan wirid berjamaah, aku tak mau air mata yang sudah mulai menetes ini dilihat makmum yang lain.

Setibanya di kost, kurebahkan tubuh ini di kasur. Kututup wajahku dengan bantal. Aku menangis. Sambil membayangkan ramah senyum wajahnya kuhadiahkan Al-Fatihah untuknya. Kupanggil-panggil terus namanya dengan harapan yang kecil terjadi, sosoknya hadir di hadapanku. Aku terus berkomat-kamit mengirimkan surotul Fatihah untuknya. Aku rindu, benar-benar rindu.

Maklum, biasanya setiap aku pulang selalu kusempatkan mengunjunginya. Tempo hari aku tak menghampirinya, tidak menyapanya. Dan malam ini jadinya, ada kerinduan yang menjadi-jadi bersamaan dengan tangisanku.

Ah... Mbah Kung. Saat pulang tempo hari aku memang tidak sempat membersihkan pusaramu, tidak sempat membereskan ilalang yang tumbuh di sareanmu, tidak mengguyur tanahmu dengan air segar yang kemudian kutaburkan bunga-bunga mawar dan kenanga di atasmu. Malam ini kau buat aku merindumu, maaf Kung.

Mbah Kung, sekali pun sosokmu hadir benar-benar nyata malam ini di hadapanku, akan kupeluk dan kucium tanganmu lama-lama. Kuteteskan air mata ini di pundakmu sebagai bukti rinduku. Aku tidak ingin mengulang kelalaianku saat kehadiranmu yang nyata di kompleks pemakaman Mbah Ampel beberapa tahun lalu. Jika malam ini engkau hadir tak akan kubiarkan berlalu begitu saja.

Aku rindu Mbah... Mampir ya Kung, jenguk cucumu yang esok akan ujian.
Aku akan belajar dulu..

Kuhadiahkan lagi untukmu, Al-Fatihah... :)

Makam Mbah Kung (kiri) dan Mbah Putri (kanan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar