Laman

Selasa, 10 Januari 2012

Sandal vs Skandal, Hukum Oh Hukum...

Saya tidak terlalu paham hukum karena saya bukan mahasiswa hukum, tapi  terkadang saya punya penilaian tentang hukum dengan melihat kasus-kasus hukum di media (baik di televisi, koran, atau internet) yang sepertinya kasus tersebut harus mendapatkan sanksi tegas dan berat ternyata malah terhitung ringan hukuman yang ditimpakan. Sedangkan saya juga melihat kasus sepele hukumannya malah cenderung terlihat memberatkan.

ini terjadi di Cilacap Jawa Tengah

yang ini terjadi di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur
ini yang paling booming, AAL dan sandal
Miris dan memprihatinkan, kalau saya boleh mengutarakan pendapat saya (entah siapa yang mendengarkan) maka menurut saya kejadian-kejadian seperti ini merupakan dilema. Mengapa saya katakan dilema karena kejadian pelanggaran hukum yang seperti ini seharusnya tidak menjadi perkara besar yang semakin dibesar-besarkan, tapi apa boleh buat terkadang media memang lebay. Akhirnya, hal-hal seperti ini yang justru melupakan atau justru menghapus jejak dan pemberitaan kasus pelanggaran hukum yang ganjil dan butuh perhatian lebih khusus untuk ditangani. Maksud saya seperti kasus-kasus skandal, entah itu skandal Century yang tak tahu bagaimana nasibnya, skandal Nunun, skandal Lapindo, skandal Bima, dan lain-lain. Itu yang seharusnya mendapatkan porsi lebih untuk diberitakan. Karena menurut saya -sebagian kecil- perkara yang saya sebutkan di atas adalah hal yang sesuatu banget, sesuatu yang lebih bobrok ketimbang potongan-potongan printscreen yang saya pasang di atas.

Akan tetapi saya punya sudut pandang lain yang akan saya tuliskan disini. Begini, kasus-kasus pelanggaran hukum yang kecil sepertinya perlu menjadi pertanyaan bagi kita, mungkin betul pelakunya tidak layak untuk mendapatkan sanksi yang sedemikian rupa sehingga menimbulkan kontroversi. Akan tetapi yang harusnya muncul dari benak kita adalah 'Lhooo... Kenapa bisa sampai mencuri?' apakah si pencuri -yang notabene anak-anak- benar-benar ada niatan mencuri atau hanya sekedar nakal, atau justru ada paksaan.


Mungkin Ini yang Namanya Kurikulum Mencuri

Inilah yang saya nggak ngeh anak kecil mencuri, remaja mencuri, mencuri hal-hal yang biasa saja sampai yang luar biasa (banyak kasus penjambretan, perampokan, pencurian yang pelakunya masih belasan tahun). Menurut saya penyebabnya adalah krisis iman. Iman menjadi pondasi bagi kita, agama manapun pasti mengharamkan hal-hal tidak terpuji lebih-lebih agama Rahmatan lil 'alamiin. Kalau begini, kuncinya adalah pendidikan, pendidikan akhlak dan budi pekerti. Sepertinya pendidikan berkarakter yang saat ini menjadi tren di dunia pendidikan Indonesia belum berhasil, masih banyak remaja dan anak-anak kita yang tidak berkarakter, berkarakter sebagai INDONESIA yang termaktub dalam lima sila, Pancasila. Belum.

Yaaaa... mohon maklum kalau pemahaman saya tentang hukum mungkin justru menjadi bahan tertawaan Anda, tapi itu hanya opini saya. Dan yang terakhir memang di negeri ini Sandal mengalahkan Skandal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar