Laman

Sabtu, 12 Oktober 2013

Keluarga Bencana

5:17 Menjelang Maghrib di 12 Oktober ini aku terharu ketika membaca blog temanku yang sedikit mengutarakan perjuangannya bersamaku dan delapan belas orang lainnya. Ya, perjuangan setahun yang lalu saat kami ditugaskan kampus untuk berkuliah kerja nyata bersama masyarakat di desa terpencil, pedalaman Tengger lereng Bromo. Aku memang tidak sedetail orang-orang lain untuk mencatatkan setiap cita-cita dan pengalaman yang terjadi dalam kehidupan. Rupanya temanku itu membuat mataku terbuka bahwa kami yang setahun lalu pernah mengabdi di Desa Kedasih menjadi sebuah keluarga yang walau tidak bertemu masih bisa bercengkerama.

Oh Tuhan... Terima kasih Engkau telah mempertemukanku dengan mereka orang-orang hebat yang banyak mengajariku berbagai hal. Termasuk tentang pengabdian ini. Entahlah, darimana asal-usul #KB (Keluarga Bencana) yang menjadi identitas kami, mungkin waktu menggagasnya aku tidak ikut. Akan tetapi, walaupun nama kami #KB insya Allah kami justru mengantarkan berkah Tuhan untuk sesama makhluk. Amien.

5:26 Sambil menjawab adzan Maghrib yang berkumandang aku mencoba melanjutkan paragraf ini. Tidak kusangka walaupun kami yang berduapuluh itu terdiri dari latar belakang yang berbeda-beda, life style yang bervariasi, agama, suku, dan ras yang benar-benar Indonesia ternyata kami tetap satu saudara sejak itu sampai sekarang. What a life! Aby, Linda, Idia, Adis, Nindi, Fami, Tya, Dyan, Putri, Etik, Lalak, Kinasih, Gaston, Sahnaz, Alfi, Yoan, Titi, Yulia, dan Mbak Nelly kalian semua ternyata hebat, awesome!

Muhammad Ersya Faraby (Aby)
darinya aku belajar banyak tentang kepemimpinan, kesabaran, dan kekonyolan. Mator sakalangkong Cong!

Karlinda Sari (Linda)
dibalik gokil dan comel khasnya ternyata dia mengajarkanku apa itu quality time. Salut atas lulusmu yang 3.5 tahun dengan nilai Cum Laude

Idia Mawadda (Umik)
Turunan Arab yang nggenah kok, calon dokter yang baik ini mengajariku apa itu simple dan easy going. hahahaha... makasih Mik

Claudya Tio Elleossa (Adis)
Thank your very much for #KB stories in your http://unspokenspace.blogspot.com/ 

Anindi Lupita Nasyanka (Nindi)
S.Farm terbaik UNAIR tahun 2013 ini, totalitasmu dalam mengabdi kau buktikan dengan segala perlengkapan ternyata banyak barangmu yaaa.. hahahaha

Fami An Najam
Di balik absurdmu ternyata banyak rahasia. -__-

Rachmannia Izzati (Tya)
Kapan aku lihat kamu cemberut bu dokter gigi? hahahaha

Dyan Suwartiningsih (Dyan)
Sisa...sisa...sisa.. terima kasih atas kultur Jawamu yang kental, satu vocabulary baru untukku

Putri Rokhmawati (Budhe)
Ini dia sosok yang berjiwa besar saat mengajar. Sabarnya besar seperti badannya :p

Etik Ainur Rohmah (Etik)
Pekerja keras, cerdas, rajin, kutu buku tapi tetap supel. Makasih Tik...

Lalak
Awesome Doctor!

Thomas L H (Gaston)
Terima kasih Bro! tukar informasi budayamu sungguh menarik. Kau juga punya toleransi yang sangat baik pada saudaramu yang muslim. Aku tunggu wisudamu

Sahnaz
Cantik, berbakat di dunia modelling tidak membuatmu merasa tertekan untuk tinggal di daerah terpencil. Hebat.

Alfi A. Pratama (Alfi)
Awalnya kamu terlihat freak tapi ternyata tidak, kamu friendship banget suwun Fi...

Yohana Anggarasari (Yoan)
Ini dia partner yang menemaniku saat pelayanan kesehatan hewan. Suwun Yooo wes nemani sampek kamu sakit. Be a good vet yaaa....

Redianti Galuh (Titi)
Cerewet, lucu, dan gokil... hahahahahaha... Apa kabar tante, terima kasih atas trial briketnya di Kedasih :p

Kinasih Aicha (Kinasih)
Hahahaha...

Yulia Agustina
Manjamu ternyata tidak berlaku di Kedasih ya Neng. Hebat!!!

 Mbak Nelly
:)

Special Thank You for Mr. Hario Megatsari

Last, God Bless You... :)



Rabu, 09 Oktober 2013

Idul Qurban Itu Mensejahterakan Hewan

Idul Adha sudah tinggal sehari lagi, semua muslim di seluruh penjuru dunia menyambut dengan penuh suka cita karena sebagian dari mereka ada yang Allah ta'ala berikan kesempatan untuk melaksanakan ibadah haji dan menjadi tamu agung-Nya di Mekkah dan Madinah. Ada pula yang bahagia karena pundi-pundi uangnya mencukupi untuk membeli hewan kurban baik kambing atau sapi. Tidak kelewatan, mereka yang belum mampu berkurban dan berhaji juga turut gembira, karena mereka yang fakir lagi miskin akan mendapatkan santunan daging dari yang mampu.

Saudaraku, sudah dijelaskan bahwa ternak yang Allah Swt ciptakan diperuntukkan bagi kita sebagai bahan pangan, alat transportasi, atau alat bantu, dan lain-lain. Di moment mulia ini, moment berbagi sesama manusia dalam hal istimewa, berbagi daging yang tidak semua orang bisa menjadikannya sebagai sumber pangan yang mudah dibeli maka sudah barang tentu ada kenikmatan tersendiri bagi yang bersedekah dan yang disedekahi.

Sama seperti kali ini, H-1 Idul Adha lahan kosong pinggiran metropolis Surabaya yang gersang di tepi jalanan aspal beraromakan kurang sedap karena petak-petak tanah kosong tersebut menjadi pasar hewan dadakan, sapi, kambing, dan domba diikat dan dipamerkan seperti showroom mobil di bilangan Kertajaya. Entah darimana ternak-ternak itu dipasok, dan bagaimana izin usahanya mengingat bentuk pasar yang serba cepat ini, yang jelas seperti biasanya saat Idul Adha, harga ternak tersebut menjadi cukup tinggi.

Hal yang ingin saya cermati untuk fenomena ternak kurban ini adalah satu dari tiga poin triangle force yang Abuya Luthfi tekankan, meng-alam-kan alam. Pada konteks ini meng-alam-kan alam adalah memperhatikan hewan sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, Allah ta'ala. Sebagai calon dokter hewan, saya padukan konsep animal welfare (kesejahteraan hewan) dengan keyakinan saya, Islam. Animal welfare merupakan sebuah konsep dasar manusia dalam memperlakukan hewan sesuai dengan kodratnya, menurut saya animal welfare adalah bagian dari iman seorang muslim karena seorang muslim itu merupakan titisan Nabi Muhammad Saw melalui ajaran-ajaran beliau. Memperlakukan makhluk-Nya dengan adil, maka mensejahterakan hewan juga bagian daripada berlaku adil terhadap makhluk, ada lima poin yang harus disadari oleh manusia dalam memperlakukan hewan, yang pertama hewan itu harus freedom from hungry and thirsty, lalu freedom from injury and pain, yang ketiga freedom from discomfortable, yang keempat freedom from fear and distress, dan yang terakhir freedom to express natural behaviour.

Cukup dijelaskan secara garis besar, saya akan bertanya balik pada pembaca sekalian, apakah ternak kurban yang dipamerkan di tepi jalan sudah bisa berteduh dengan baik? apakah pakan dan air mereka setiap hari sudah tercukupi? apakah mereka nyaman? apakah mereka benar-benar terbebas dari stress dan ketakutan? dan yang terakhir apakah mereka bisa bertingkah sesuai naluri alamiahnya? Saya hanya bisa berandai-andai, kalau saja Nabi Sulaiman masih hidup maka mungkin saja sapi-sapi dan kambing-kambing itu akan berkeluh kesah pada beliau.

Berikutnya mengenai penyembelihan ternak kurban, Anda boleh saja memotong banyak hewan lalu tersebar kepada masyarakat namun tetap ada yang harus diperhatikan. Penyembelihan yang baik sehingga halallah daging kurban tersebut. Memperhatikan jalur nafas, makan, dan dua pembuluh darah yang harus terputus adalah penting karena begitulah yang disyari'atkan. Memang lebih aman jika Anda yang berlaku sebagai pengurus atau panitia penyembelihan hewan kurban mengawasi dan tegas terhadap penyembelih walau terkadang ada gesekan dan sedikit bersi tegang. Hal itu demi kebaikan bersama, karena kurban bukan hanya soal daging tapi soal ibadah, soal laku amal pada Allah ta'ala yang diteladankan melalui Nabi Ibrohim as dan putranya.