Laman

Senin, 12 Maret 2012

Hari Air Sedunia dan Tamu Spesial BHI

Hari Air Sedunia atau yang sering dikenal dengan World Day for Water) adalah perayaan yang ditujukan sebagai usaha-usaha menarik perhatian publik akan pentingnya air bersih dan usaha penyadaran untuk pengelolaan sumber-sumber air bersih yang berkelanjutan. (wikipedia).

Tidak mau ketinggalan, Kajian Bening Hati untuk Indonesia yang dilaksanakan di Kapas Krampung Plaza, edisi Maret kali ini bersama tim KAPAL JATIM (Kenduri Agung Pengabdi Lingkungan Jawa Timur) mengkaji tentang How a precious water !!!! Air merupakan suatu hal yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Hampir 97% bumi kita ini adalah air yang memberikan isyarat kepada kita bahwa air seharusnya menjadi hal yang terkonservasi dengan baik kualitasnya.

Salah satu tokoh KAPAL Satrijo Wiwieko menjelaskan bahwa air hujan yang jatuh di bumi kita ini sebagian bukan air yang menyehatkan lagi, karena water cycle sudah tidak berjalan normal. Siklus air yang ada juga mulai terkontaminasi dengan polutan-polutan yang diproduksi oleh industri-industri besar. Singkat cerita air hujan yang turun memiliki pH (derajat keasaman) di bawah normal (pH normal = 7) yang bersifat asam.Hal yang demikian mungkin tidak disadari oleh masyarakat sehingga menyebabkan peralatan logam kita seperti mobil dan sepeda motor mudah berkarat. Selain itu hujan asam yang turun justru dapat menimbulkan tumbuhan cepat mati karena tumbuhan tidak mampu beradaptasi dengan baik dengan pH yang asam. Saat ini air perlu diselamatkan, kualitas air harus terjaga dengan baik demi anak cucu kita esok. Hutan hujan tropis harus digalakkan lagi karena kita tahu hutan hujan tropis saat ini semakin gundul dan tidak salah juga kalau saat ini kita sebut sebagai hutan hujan asam. Safe the water by some innovation !!! suce as : septic tank model IPAL, biofilter dengan menanam tumbuhan-tumbuhan seperti pisang hias, dan yang pasti penghijauan.

Safe the Water !!! Satrijo Wiwieko, MT
Selain tim KAPAL JATIM, BHI kali ini juga kedatangan tamu spesial dari pulau seberang. Seorang guru besar kami Syekh Prof. D. Zawawi Imron. Beliau memberikan pencerahan kepada jamaah untuk benar-benar memiliki lisan emas dan hati emas dalam berkarya serta mengabdi melestarikan lingkungan.
Tausiah guru sepuh yang baru saja pulang dari Thailand dalam rangka mendapatkan reward sastra Asia Tenggara dari Raja Thailand ini beliau tutup dengan sebuah puisi berjudul Alif yang pernah beliau sampaikan bersama KH. A. Mustofa Bisri / Gus Mus di Amerika Serikat.
D. Zawawi Imron (tengah)


Berikut syair ALIF karya D. Zawawi Imron

Alif 
 
Alif, alif, alif,!
Alifmu pedang di tanganku
Susuk di dagingku, kompas di hatiku
Alifmu tegak jadi cagak, meliut jadi belut
Hilang jadi angan, tinggal bekas menetaskan
 Terang
 Hingga aku
 Berkesiur
 Pada
 Angin kecil
 Takdir-
 Mu

Hompimpah hidupku, hompimpah matiku
Hompimpah nasibku, hompimpah, hompimpah
Hompimpah!
Kugali hatiku dengan linggis alifmu
Hingga lahir mataair, jadi sumur, jadi sungai,
Jadi laut, jadi samudra dengan sejuta gelombang
Mengerang menyebut alifmu
Alif, alif, alif!

Alifmu yg Satu 
Tegak dimana-mana
D. Zawawi Imron saat meninggalkan stage
Di penghujung kajian Bening Hati untuk Indonesia seluruh jamaah berdzikir lingkungan
yang dipimpin oleh Ustadz Nefi diikuti oleh da'i lingkungan dan seluruh jamaah kajian BHI

Minggu, 11 Maret 2012

KAPAL JATIM (Kenduri Agung Pengabdi Lingkungan)

Edisi kali ini (3-4 Maret 2012) adalah edisi ketika saya ikut berlayar bersama tim ke Desa Cowek, Purwodadi; Malang; dan Desa Sumber Bening, Trenggalek. Perjalanan seru dan mengesankan. 

Di Desa Cowek kami singgah untuk konsolidasi dan memberikan pencerahan kepada tim SiHIjau yang giat dalam konservasi mata air. Mata air di Desa Cowek mampu menghidupi sekitar 1000 kepala keluarga di lima desa yang ada (desa Cowek, Kertosari, Kademangan, dan Semut) dan 400 hektar sawah. Ketika berada disana saya merasakan hawa sejuk yang berhembus, gemericik air yang kecil sampai terderas pun nyaman untuk didengar. Karena ada 30 sumber mata air disana maka tidak salah kalau mereka menamakan diri sebagai Kampung Sobat Mata Air.
Andun digendong Ahlinya Lingkungan Satrijo Wiwieko, MT

Abuya dan Umik menuju sumber mata air
DR Suparto Wijoyo dan Pakdhe Pras : Istirahat sejenak
Pembina KAPAL, Pakdhe Pras bersalaman dg Tim SiHijau didampingi Ketua KAPAL, DR. Suparto Wijoyo
Testimoni Resi KAPAL, Abuya Luthfi
Nampang dulu ah
Reporter KAPAL, Mas Zaenal
hidangan special a la Kampung Sobat Mata Air
Lanjut ke Malang. Kali ini tim menuju Rumah Makan Kertanegara (belakang SMA Negeri 1 Malang) untuk bertemu dengan seseorang yang berasal dari Talang Agung, yang ahli dalam mengolah limbah sampah untuk dijadikan sumber energi BBM.

Green Spirit : Bersih, HIjau, dan Biru
Selepas adzan Ashar perjalanan tim masih berlanjut lagi, kali ini kami 'go' Trenggalek untuk berdiskusi terkait suatu program lingkungan yang digagas oleh masyarakat Dusun Cerabak, Desa Sumber Bening. Program yang akan dilaksanakan adalah penanaman 500 bibit jeruk purut yang akan dimanfaatkan daunnya ketika panen untuk diolah lagi menjadi minyak sayur.


Perjalanan menuju Trenggalek rupanya cukup melelahkan. TIm membutuhkan waktu kurang lebih 4-5 jam untuk sampai di TKP. Dan ternyata road yang ditempuh juga menantang, jalan berbatu, mendaki gunung, becek, gelap, dan hanya bisa dilewati satu mobil menjadi kesan tersendiri bagi saya selaku seorang Da'i lingkungan. It's really back to nature!!! Kami pun tiba di TKP tepat jam 10 malam dan ternyata benar-benar 'sesuatu'. Dusun Ceraban malam itu harus mendapatkan giliran pemadaman dari PLN. Dan berikut dokumentasinya.





GREEN SPIRIT !!!! BERSIH, HIJAU, BIRU !!!!!