Laman

Minggu, 23 Januari 2011

Pentingnya Guru Spiritual

Ingatlah dulu ketika berusaha berjuang mendapatkannya, ingatlah ketika berdoa agar dapat memilikinya, adakah ketika dia akan terlepas, engkau berbuat seperti dulu ingin mendapatkannya? Isi dunia memang tiada sempurna tapi jalan orang sempurna adalah bersyukur, menerima atas apa yang diterimanya, dan menyesal telah menyia-nyiakannya.”
15:40, Jumat, 21 Januari 2010 kalimat itu masuk di inbox nokia C5 setelah aku berjamaah sholat Ashar. Sejenak aku merenung dan membacanya berulangulang, kupikir dan kucerna kata per kata. Apa yang beliau kirimkan seringkali sesuai dengan kondisi ruhiyah dan batiniyahku.
Sahabat, penulis ingin berbagi sedikit disini. Berbagi hikmah dan pelajaran berharga mengenai apa yang telah aku alami sebagai seorang muslim, mengenai ikatan yang begitu erat antara seorang guru dan muridnya.
Guru, digugu lan ditiru. Sudah selayaknya kita mencari guru yang benarbenar bisa menjadi contoh bagi kita, contoh yang mencontohkan perilakunya, contoh yang mencontohkan kehidupan seharusnya, contoh yang mencontohkan telatennya menangani orang lain, contoh yang mencontohkan keistiqomahan dalam tiap langkahnya, contoh yang mencontohkan bagaimana kita mencari ridho Allah ta’ala.
Sejak kecil kita sudah bertemu berpuluhpuluh guru yang telah mendidik kita mengenalkan satu huruf alif, angka 1 – 10, huruf a,b,c,d, hingga ilmuilmu yang lebih rumit. Akan tetapi, pernahkah kita berpikir siapa guru yang telah mendidik batin kita ? Yang memperhatikanubudiyah kita ? Yang memberikan motivasi melalui ilmu agama dengan baik ? Terkadang atau bahkan kita sering lupa semua itu. Beliaubeliau yang sering kita ingat adalah yang Proffesor, doktor, S1, S2, kepala sekolah, guru teladan se-Kabupaten, se-Provinsi, atau nasional. Rupanya, beliaubeliau yang lebih prihatin terhadap kondisi keimanan dan ketakwaan kita jarang terbesit atau mungkin kita lupa untuk menyebut nama mereka dalam doa kita, na’udzubiLlah.
Guru spiritual, pembimbing iman dan takwa kita sebenarnya juga sama posisinya seperti guru – guru pada umumnya bahkan bisa saja lebih tinggi karena ketika ilmuilmu umum yang kita terima jika tidak kita hubungkan dengan ilmuilmu ketauhidan yang telah diajarkan guru – guru agama maka bisabisa kita terjerumus dalam lautan akal yang mengutamakan logika tanpa melihat sudut pandang hati nurani dan sunnatullah ataupun rahasia Illahi. Hal demikian menjadi bahaya jika terjadi pada seorang muslim, dikatakan muslim intelektual ya bukan karena pemikirannya mengesampingkan atau bahkan tidak menganggap siapa pemilik semua ilmu : Allah swt, seharusnya muslim intelektual adalah muslim yang bisa memberikan point of view terhadap fenomena alam secara ilmiah dengan mengingat dan bersyukur bahwa lautan ilmu Allah swt begitu hebat. Oleh karena itu, untuk memahami bahwa ilmuilmu yang ada adalah benarbenar milik Sang Khalik kita tidak bisa lepas dari peran guru spiritual yang membimbing rohani kita.
Menjadi orang berilmu itu hak dan kewajiban seorang muslim, Rasulullah saw  bersabda, “Menuntut ilmu wajib atas tiap muslim (baik muslimin maupun muslimah). (HR. Ibnu Majah)”
Hanya saja kita juga harus mencari ilmu itu pada orang yang tepat, pada seorang yang memang patut digugu lan ditiru, salah mengambil langkah dalam penentuan kepada siapa kita berguru maka langkahlangkah kita selanjutnya sedikit banyak akan mengikuti apaapa yang telah didoktrinkan pada neuron – neuron otak kita. Contoh kecil saja, ketika kita berguru pada seorang ahli fikih akan berbeda sikap kita dengan orang yang berguru pada seorang ahli tassawuf. Maka dari itu kita sebagai decision maker dalam berguru harus benarbenar  teliti, benarbenar paham pada orang yang akan kita jadikan guru. Guru yang berilmu banyak, berwibawa, dan bisangemongkita, guru yang paket komplit, karena Rasul pun bersabda, Duduk bersama para ulama adalah ibadah. (HR. Ad-Dailami).”
Wa ba’du, bagi penulis guru spiritual benarbenar berpengaruh bagi perjalanan kita ke depan, mereka adalah orang tua kita setelah orang tua kandung kita maka mereka juga wajib kita hormati dan taati. Suatu ketika sahabat akan merindukan nasehatnasehat mereka ketika sahabat harus hidup tidak di dekat mereka. Rindu akan tausiah dan suaranya yang biasanya mengisi pengajian rutin di majlis ta’lim.

Sabtu, 11 Desember 2010

great day.. alhamdulillah !!!

18:16 petikan dawai gitar Jubing Kristianto mengalun di ACER 4736ku menemani senja gerimis di luar kamar kostku. Petang ini aku sendiri di kost, teman - temanku belum pulang, entah terjebak hujan, menghabiskan waktu di studio musik, sibuk menggarap laporan dengan sejawatnya, atau pergi ke mall menuntaskan akhir pekan ini. Hening, kamarku begitu tenang dengan iringan playlist yang melow. Hari ini aku benar - benar luar biasa, Sabtu yang luar biasa juga, penuh kejutan dan pelajaran.

Pagi - pagi di akhri pekan aku guyurkan air tidak seperti biasanya di akhir pekan, aku mandi lebih awal untuk memulai hari yang agak longgar ini. Menuju Jl. Dharmawangsa, Masjid Nuruzzaman Kampus B UNAIR dengan Jupiter MX (baca:MiXi) melewati jalanan yang masih lenggang karena orang - orang belum sibuk beraktivitas. Dengan kecepatan yang cukup tinggi aku pun tiba di Nurza, sepi dan lengang. Hanya beberapa mahasiswa dengan jas almamater duduk menanti teman - temannya untuk mengikuti acara di salah satu aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Duduk di serambi masjid, mengeluarkan handphone dan sejenak menunggu booting untuk log in www.foursquare.com kubuka menu message dan kutulis pesan, "Mas, sy sudah di Nurza =)." Tak lama kemudian ringtone gemericik air handphoneku berbunyi, kubuka "Iya dek, ini masih ngontel dari pesantren mahasiswa (baca:pesma)." Sembari menunggu kubuka foursquare-ku dan ku-update @Masjid Nuruzzaman Kampus B UNAIR dengan status 'mengambil sesuatu dari ketua pelaksana Muktamar XXIX'.

Luar biasa, tak sampai lima menit beliau datang dengan sepeda wim cycle-nya sambil mengucap, "Assalamu'alaikum, maaf yaa Dek sudah buat nunggu, sudah lama ta?"
"Nggak kok Mas baru sampai juga ni," kujawab dengan hangat.
Beliau adalah Zainuddin, S.KH atau lebih dikenal Mas Zen, ketua pelaksana Muktamar UKMKI XXIX yang baru saja berlalu seminggu lalu. Dikeluarkannya sebuah bingkisan yang di atasnya tertulis "Jazakumullah atas partisipasi antum dalam pensuksesan semarak MUKTAMAR XXIX UKMKI" kubuka bungkusan itu di depan Mas Zen dan alhamdulillah sebuah buku bersampul biru dengan judul 'Terampil Bersahabat dengan Siapa Saja' karangan Imam al-Ghazali. Luar biasa buku yang ingin segera kubaca dan kupelajari apa - apa yang ada di dalamnya. Sepertinya buku itu adalah buku yang akan mengajarkan bagaimana seorang muslim itu fleksibel dengan kemuslimannya. Seminggu yang lalu aku memang diperbantukan untuk menjadi master of ceremony di salah satu rangkaian kegiatan MUKTAMAR XXIX : Quantum Thinking. Sebuah training yang menginspirasiku untuk bisa melompat dalam berpikir. Trainernya berkualitas dan benar - benar telah ber-quantum thinking, hal itu terlihat dari background dan kehidupannya sekarang.

Sejenak kubuka dompet dan kubuka selembar kertas yang mengingatkanku untuk menghadiri acara menakjubkan juga. Tiket Rossy Goes to Campus mengingatkanku untuk segera bergegas ke lokasi acara selepas sholat Dhuhur. Auditorium Kampus C UNAIR menjadi tkp, pukul 12 lebih sedikit aku tiba di audit dan apa yang terjadi? sebagian besar kursi yang disediakan panitia penuh, dan akhirnya aku dapat kursi di belakang padahal acara baru dimulai tepat jam 1. Aura inspirasi sudah berterbangan di sudut - sudut audit, gemuruh ribuan mahasiswa tak sabar untuk menyaksikan talk show bersama Rosiana Silalahi.
"Kita sambut dengan tepuk tangan yang meriah, Rosiana Silalahi...!!!"
Sontak seluruh isi auditorium berteriak dan menyambut Rosi dengan tepuk tangan dan senyum yang ceria. Kebanggan tersendiri bagi UNAIR bisa kedatangan seorang tamu yang berkontribusi besar di dunia jurnalis untuk membeberkan berita dan fakta yang tengah terjadi di negeri ini. Rosi pun berdiri di panggung sambil menyapa ribuan intelektual muda UNAIR yang memenuhi auditorium. Jelas saja sapaan hangat itu dibalas dengan histeris oleh para mahasiswa.

Talkshow dimulai, Rosiana Silalahi memanggil tamu - tamu istimewanya. Tamu pertama Bapak Rahmat Gobel (Panasonic), kemudian Yenni Wahid (Putra K.H. Abdurrahman Wahid, Gus Dur), lalu Ahok (Seorang kepala daerah di daerah Riau), dan yang terakhir adalah Dr. Daniel Sparingga (staf ahli presiden bag komunikasi, alumni FISIP UNAIR jurusan Sosiologi) dan tamu spesial Syaifullah Yusuf a.k.a Gus Ipul (Wakil Gubernur Jawa Timur). Mereka semua menginspirasi ribuan Satria Airlangga yang hadir. Talkshow ringan tapi berbobot dengan materi - materi untuk kemajuan bangsa menuju Indonesia Tangguh.

Di penghujung acara, Glenn Fredly menjadi sorotan mahasiswa yang notabene kaum muda. Golden voice Glenn menghipnotis seluruh ruangan sehingga mahasiswa teriak histeris akan merdunya. Tampilan pertama, Kala Cinta Menggoda-nya Chrisye sudah membuat gemuruh teriakan seisi ruangan semakin kencang. Dilanjutkan dengan Belum Saatnya dengan tampilan aransemen baru, Terpesona, lagu khusus untuk mendiang pahlawan hak asasi manusia : Munir, Rasa Sayange, dan ditutup oleh Kisah Romantis yang didedikasikan untuk para jomblo yang sepi di malam Minggu.

Pas rasanya hari ini untukku, dapat buku, dapat inspirasi, dan dapat hiburan. Real weekend !!!